Jauhkan Ramadhan Dari Konsumerisme

2 Aug 2012

Selamat datang kembali di blog ini sahabat, semoga Anda senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat. Bagi yang Muslim selamat menunaikan ibadah puasa semoga senantiasa mendapatkan RidhoNya dalam menjalankannya.

Mengingat terbatasnya waktu dan pentingnya tulisan dibawah ini, maka saya ingin segera menyampaikannya kepada Anda, semoga ada manfaatnya.

Kepada Bapak Muhammad Ja’far, saya ucapkan terima kasih atas sharenya ini, karena pada momentum Ramadhan ini kita semua sangat membutuhkan masukan seperti ini, bukan saja sebagai masukan namun mudah-mudahan bisa menjadi renungan yang penuh makna yang nantinya kita harapkan akan mampu menjadi roda penggerak bagi adanya perubahan budaya dari budaya konsumerisme menjadi budaya karya dan cipta. Bagi seluruh Rakyat Indonesia.

BULAN RAMADHAN sebenarnya momentum menemukan otentisitas diri. Dengan cara menanggalkan seluruh sisi artifisial ragawi. Berjalan menuju penguatan substansi ruhani. Puasa salah satu mediumnya.

Tapi sayangnya, secara faktual yang terjadi seringkali sebaliknya. Ramadhan menyuguhkan fenomena tidak seperti yang menjadi nilai dasarnya. Masyarakat terjebak pada sebuah kesalahkaprahan dalam menyambut kedatangan Ramadhan. Salah kaprah dalam mengelola hari-hari Ramadhan.

Budaya Konsumerisme

Salah kaprah itu, salah satunya teraktualisasikan dalam budaya konsumerisme. Pola konsumsi masyarakat mengalami peningkatan yang sangat pesat selama Ramadhan. Belanja menjadi trend. Mall menyuguhkan paket-paket penjualan khusus Ramadhan khusus untuk memenuhi hasrat konsumerisme di bulan Ramadhan.

Segala macam produk juga berbondong-bondong dibungkus dengan simbol Ramadhan. Kemasannya ditampilkan dalam corak Ramadhan. Padahal dari segi “isi”, tak ada beda. Keahlian budaya konsumerisme memang pada memainkan kesadaran artifisial masyarakat: tergiur pada kemasan dan bungkus, abai pada esensi. Ini watak dari budaya konsumerisme.

Di bulan Ramadhan, korporasi, dengan segala tawaran produknya, berebut mendapatkan tempat di kesadaran konsumeristik masyarakat. Berbagai produk dipaksa untuk dikait-kaitkan dengan “ontologi” Ramadhan dan puasa. Meski secara esensial sebenarnya tak nyambung, atau malah paradoks.

Alhasil, dalam budaya konsumerisme, puasa dipersepsikan sebagai keterkekangan, bukan pembebasan. Sehingga berbelanja, mengkonsumsi sepuas-puasanya, mendapat legitimasi. Konsumerisme dianggap mengkompensasi keterkekangan. Berbelanja dipahami sebagai “upah material” atas keterkekangan ruhani.

Padahal, makna otentik puasa adalah pembebasan dari tali kekang materiil, ragawi, badani. Tapi dalam masyarakat konsumeristik, puasa justru mengarahkan pada keterjebakan lebih mendalam pada ketiga hal itu.

Kesimpulannya: budaya konsumerisme justru mengalienasi mereka yang berpuasa dari inti ibadah puasa. Menjauhkan mereka dari pusat makna puasa itu sendiri. Puasa, yang sebenarnya berorientasi pada penajaman ruhani, ditumpulkan oleh budaya konsumerisme yang sepenuhnya bervisi jasmani. Puasa yang bertujuan mengasah kepekaan sosial, oleh trend belanja justru diarahkan menjadi ketidakacuhan sosial. Pokoknya budaya konsumerisme serba kontradiktif dengan esensi Ramadhan. Paradoks dengan substansi puasa.

Pendidikan Anti Konsumerisme

Budaya konsumerisme di era Ramadhan ini tak dapat kita pisahkan dari kecenderungan umum rakyat Indonesia yang konsumtif ketimbang produktif. Kita lebih suka berbelanja, daripada berkarya. Budaya kita lebih berorientasi “menghabiskan” ketimbang “menghasilkan”.

Jika fenomena ini kita lihat juga pada momentum Ramadhan, itu bukan realitas yang parsial dari fenomena pada tingkat kebangsaan.

Sepertinya, pendidikan menjadi oase ditengah kekusutan problem ini. Sebab masalah ini berkaitan dengan paradigma. Cara pandang manusia Indonesia terhadap dirinya, dunianya dan akhiratnya. Cara pandang terhadap ketiga hal itu haruslah integral. Tak boleh terpisah-pisah.

Pendidikan adalah tonggak untuk merubah paradigma konsumtif. Karena budaya konsumsi berkaitan dengan tabiat. Mengkonsumsi adalah soal perangai.

Pendidikan merupakan medium untuk merubah tabiat dan perangai. Dua hal itu berhubungan dengan soal kesadaran. Dan wilayah kerja pendidikan adalah seputar kesadaran manusia.

Dua hal yang bisa dijalankan pendidikan terkait dengan budaya konsumerisme. Pertama, melakukan penyadaran tentang pentingnya budaya yang berorientasi pada kekaryaan, bukan konsumsi. Orientasinya adalah mengubah paradigma generasi saat ini yang terlilit budaya konsumerisme.

Kedua, melahirkan generasi baru di masa mendatang: generasi anti konsumerisme. Pendidikan adalah elemen yang paling otoritatif, sekaligus paling bertanggungjawab, untuk mencetak generasi model itu. Sehingga di masa mendatang, kita tak lagi dikenal sebagai bangsa konsumtif, tapi produktif.

Sehingga ketika Ramadhan tiba, ketika itu pula kita sama sekali tak memiliki selera untuk bercumbu rayu dengan segala hal yang bersifat duniawi: mall, shopping, travelling, dan lain-lain. Sebab kalbu kita sudah terlalu sibuk memikirkan-Nya.

Alhamdulillahirrobbil’alamiin..

Diposting Oleh : Niniek SS.

Sumber : Tulisan Muhammad Ja’far, Peneliti Filsafat Pendidikan dan Kebudayaan Sekolah Jubilee, Sunter, Jakarta


TAGS Puasa Ramadhan Bulan Suci.


-

Author

Follow Me